Kembali ke portal Van der Wijck

Sejarah Maritim · 20 Oktober 1936

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck: Detik-Detik Tragedi Maritim 1936 dan Keberanian Nelayan Paciran

Perairan Brondong-Paciran, Lamongan
Foto sejarah Kapal KPM SS Van der Wijck dan dokumentasi maritim
Arsip Sejarah Paciran (Van der Wijck) & KPM Archive

Kisah dramatis musibah kapal uap mewah KPM SS Van der Wijck di perairan Brondong-Paciran pada 20 Oktober 1936, serta aksi heroisme nelayan lokal yang menerjang ombak malam untuk menyelamatkan ratusan penumpang.

Kapal SS Van der Wijck adalah kapal uap mewah berbobot 2.633 gross ton milik perusahaan pelayaran Belanda Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM). Dibuat di galangan Maatschappij Fijenoord, Rotterdam pada tahun 1921, kapal ini dijuluki "De Meeuw" (Si Burung Camar) karena bentuk siluet lambungnya yang putih anggun saat melintas di samudra. Berlayar melayani rute mewah dari Buleleng (Bali), Surabaya, hingga Semarang dan Batavia, kapal ini menjadi simbol kemewahan transportasi maritim era 1930-an.

Pada malam tanggal 19 Oktober 1936 pukul 21.00 WIB, Van der Wijck bertolak dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Semarang membawa ratusan penumpang kelas I, II, serta penumpang geladak. Namun saat melintas di perairan pesisir Lamongan, sekitar 12 mil dari pantai Brondong pada dini hari 20 Oktober 1936, kapal mendadak miring secara ekstrem akibat kombinasi pemuatan kargo yang berlebih, stabilitas lambung yang terganggu akibat modifikasi penambahan dek atas, serta hempasan gelombang laut yang tak terduga di fase pancaroba. Dalam waktu kurang dari 15 hingga 30 menit, kapal terbalik dan tenggelam ke dasar Laut Jawa.

Di tengah situasi panik, petugas radio telegrafis kapal, Martinus Jacobus Uytermerk, memancarkan sinyal darurat SOS secara terus-menerus dan menolak meninggalkan pos radio hingga detik-detik terakhir sebelum air menelan seluruh badan kapal. Sinyal tersebut ditangkap oleh stasiun radio Surabaya dan nelayan di pesisir Brondong-Paciran.

Mendengar kabar musibah di tengah kegelapan malam, ratusan nelayan tradisional Paciran dan Brondong secara spontan mendayung dan memajukan perahu perahu layar kayu (mayang) mereka ke laut lepas tanpa memikirkan bahaya ombak. Tanpa memandang ras dan kelas sosial, para nelayan merengkuh penumpang yang terapung dan menampung mereka di rumah-rumah nelayan pesisir. Aksi kemanusiaan tanpa sekat ini berhasil menarik sekitar 187–200 penumpang dan awak kapal dari cengkeraman maut Laut Jawa. Korban tewas tercatat sekitar 58 orang dan puluhan lainnya dinyatakan hilang.

Sumber & Referensi Sejarah

Referensi berikut digunakan sebagai dasar verifikasi fakta sejarah maritim. Beberapa tautan dapat berubah seiring waktu.